Apa Pentingnya KTT G20 Bagi Indonesia?
VIVAnews - Presiden RI, Joko Widodo, akhir pekan ini berada di Australia untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G20. Ini merupakan KTT G20 pertama yang dihadiri Jokowi sejak menjadi presiden Oktober lalu.
Negara-negara G20 atau kelompok 20 ekonomi utama berawal pada 1973, dari undangan makan malam Menteri Keuangan Amerika Serikat George Schultz, pada menteri keuangan Prancis, Inggris dan Jerman.
Setahun kemudian Jepang diundang, menandai lahirnya G5, yang kemudian menjadi G6 dengan bergabungnya Italia pada 1975. Presiden AS Gerald Ford mengundang Kanada pada 1976, sehingga namanya berubah lagi menjadi G7.
Ketika itu diputuskan bahwa tujuh negara sudah cukup, dan G7 bertahan hingga beberapa dekade berikutnya. Pertemuan ketujuh negara dimaksudkan sebagai forum untuk memecahkan persoalan bersama diantara mereka.
Mudah bagi G7 untuk membuat keputusan, seperti atas kenaikan harga minyak dunia 1979 atau kebijakan menurunkan nilai dolar AS pada 1985, saat kelompok itu masih terdiri dari sedikit negara yang memiliki pandangan sama tentang pasar terbuka dan demokrasi.
Setelah runtuhnya Uni Soviet, Rusia kemudian diundang untuk bergabung dan menjadi G8. Perkembangan menjadi G20 disepakati pada pertemuan menteri keuangan G7, 26 September 1999. Pertemuan resmi pertama G20 adalah pada 15-16 Desember 1999 di Berlin.
Forum bagi pemerintahan dan gubernur bank sentral dari 20 ekonomi utama itu, kini terdiri dari 19 negara ditambah Uni Eropa, yang diwakili oleh Komisi Eropa dan Bank Sentral Eropa (ECB).
Pada situs resmi G20, disebutkan bahwa forum itu menyatukan para pemimpin ekonomi utama dunia untuk bersama menghadapi tantangan ekonomi terbesar. G20 juga disebut memiliki kemampuan untuk membuat tindakan tegas, yang dapat membuat perbedaan nyata dan positif bagi masyarakat.
Secara kolektif, G20 terdiri dari negara-negara yang menjadi rumah bagi dua pertiga penduduk dunia, melibatkan 80 persen total perdagangan dunia. Di tingkat teroritis, kebijakan yang dibuat pada G20 jelas akan memberi dampak yang signifikan.
Manfaat
Namun sebagian pihak menganggap G20 sebagai forum yang tidak berguna, dan hanya menghabiskan biaya untuk membiayai perjalanan liburan para pemimpin dan pejabat keuangan negara-negara yang terlibat.
Pasalnya dalam berbagai pertemuan yang telah dilakukan, G20 tidak pernah dapat menyatukan pendapat dan menghasilkan pembahasan yang produktif. Ekonom ECB Marco Lo Duca dan Livio Stracca, mengeluarkan penelitian tentang dampak G20.
Pada laporan hasil analisa mereka atas pertemuan G20 antara 2007-2013, April 2014, terungkap bahwa dampak G20 sangat kecil, jangka pendek, tidak sistematis, serta tidak kuat dalam hal spesifikasi dan aset.
Mereka mengatakan bukan berarti G20 sama sekali tidak berguna. Bahkan jika G20 tidak menghasilkan keputusan penting, forum itu secara sederhana bisa menjadi cara yang efektif bagi para pemimpin dan menteri keuangan untuk saling mengenal.
Hal itu dianggap dapat mendorong kerjasama lanjutan. "Ini akan membuat G20 mungkin masih bernilai," tulis Marco dan Livio, menambahkan bahwa G20 juga bisa jadi tidak memenuhi harapan, sebesar apa yang tertulis di media.
Pada pertemuan G20 di Brisbane, 15-16 November, disebutkan bahwa forum akan difokuskan pada langkah-langkah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi global, dengan tekanan pada pembukaan lapangan kerja dan perdagangan terbuka.
Agenda Australia sebagai tuan rumah pertemuan G20 pada 2014, juga difokuskan dalam usaha untuk membuat perekonomian dunia lebih tahan dalam menghadapi goncangan yang mungkin terjadi pada masa depan.
Pada Selasa 11 November, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengeluarkan usul kontroversial agar Indonesia keluar dari G20. Dia menilai G20 hanya persoalan gengsi, yang bagi Indonesia justru memberi dampak yang merugikan.
Menurut Susi, Indonesia akan dirugikan jika produk impor dibebaskan dari bea masuk. Setidaknya, sebut Susi, hilangnya 14 persen pendapatan Indonesia dari impor tuna senilai $700 juta setahun, bahkan lebih besar jika memasukkan komoditas lain seperti udang.
Dia menegaskan bahwa pembuat keputusan dalam G20 tetap negara-negara maju G8, sementara negara lain seperti Indonesia hanya akan menjadi penggembira. Kebijakan akan menguntungkan negara-negara maju, yang membutuhkan negara seperti Indonesia hanya sebagai pasar mereka. (ren)
Setahun kemudian Jepang diundang, menandai lahirnya G5, yang kemudian menjadi G6 dengan bergabungnya Italia pada 1975. Presiden AS Gerald Ford mengundang Kanada pada 1976, sehingga namanya berubah lagi menjadi G7.
Ketika itu diputuskan bahwa tujuh negara sudah cukup, dan G7 bertahan hingga beberapa dekade berikutnya. Pertemuan ketujuh negara dimaksudkan sebagai forum untuk memecahkan persoalan bersama diantara mereka.
Mudah bagi G7 untuk membuat keputusan, seperti atas kenaikan harga minyak dunia 1979 atau kebijakan menurunkan nilai dolar AS pada 1985, saat kelompok itu masih terdiri dari sedikit negara yang memiliki pandangan sama tentang pasar terbuka dan demokrasi.
Setelah runtuhnya Uni Soviet, Rusia kemudian diundang untuk bergabung dan menjadi G8. Perkembangan menjadi G20 disepakati pada pertemuan menteri keuangan G7, 26 September 1999. Pertemuan resmi pertama G20 adalah pada 15-16 Desember 1999 di Berlin.
Forum bagi pemerintahan dan gubernur bank sentral dari 20 ekonomi utama itu, kini terdiri dari 19 negara ditambah Uni Eropa, yang diwakili oleh Komisi Eropa dan Bank Sentral Eropa (ECB).
Pada situs resmi G20, disebutkan bahwa forum itu menyatukan para pemimpin ekonomi utama dunia untuk bersama menghadapi tantangan ekonomi terbesar. G20 juga disebut memiliki kemampuan untuk membuat tindakan tegas, yang dapat membuat perbedaan nyata dan positif bagi masyarakat.
Secara kolektif, G20 terdiri dari negara-negara yang menjadi rumah bagi dua pertiga penduduk dunia, melibatkan 80 persen total perdagangan dunia. Di tingkat teroritis, kebijakan yang dibuat pada G20 jelas akan memberi dampak yang signifikan.
Manfaat
Namun sebagian pihak menganggap G20 sebagai forum yang tidak berguna, dan hanya menghabiskan biaya untuk membiayai perjalanan liburan para pemimpin dan pejabat keuangan negara-negara yang terlibat.
Pasalnya dalam berbagai pertemuan yang telah dilakukan, G20 tidak pernah dapat menyatukan pendapat dan menghasilkan pembahasan yang produktif. Ekonom ECB Marco Lo Duca dan Livio Stracca, mengeluarkan penelitian tentang dampak G20.
Pada laporan hasil analisa mereka atas pertemuan G20 antara 2007-2013, April 2014, terungkap bahwa dampak G20 sangat kecil, jangka pendek, tidak sistematis, serta tidak kuat dalam hal spesifikasi dan aset.
Mereka mengatakan bukan berarti G20 sama sekali tidak berguna. Bahkan jika G20 tidak menghasilkan keputusan penting, forum itu secara sederhana bisa menjadi cara yang efektif bagi para pemimpin dan menteri keuangan untuk saling mengenal.
Hal itu dianggap dapat mendorong kerjasama lanjutan. "Ini akan membuat G20 mungkin masih bernilai," tulis Marco dan Livio, menambahkan bahwa G20 juga bisa jadi tidak memenuhi harapan, sebesar apa yang tertulis di media.
Pada pertemuan G20 di Brisbane, 15-16 November, disebutkan bahwa forum akan difokuskan pada langkah-langkah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi global, dengan tekanan pada pembukaan lapangan kerja dan perdagangan terbuka.
Agenda Australia sebagai tuan rumah pertemuan G20 pada 2014, juga difokuskan dalam usaha untuk membuat perekonomian dunia lebih tahan dalam menghadapi goncangan yang mungkin terjadi pada masa depan.
Pada Selasa 11 November, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengeluarkan usul kontroversial agar Indonesia keluar dari G20. Dia menilai G20 hanya persoalan gengsi, yang bagi Indonesia justru memberi dampak yang merugikan.
Menurut Susi, Indonesia akan dirugikan jika produk impor dibebaskan dari bea masuk. Setidaknya, sebut Susi, hilangnya 14 persen pendapatan Indonesia dari impor tuna senilai $700 juta setahun, bahkan lebih besar jika memasukkan komoditas lain seperti udang.
Dia menegaskan bahwa pembuat keputusan dalam G20 tetap negara-negara maju G8, sementara negara lain seperti Indonesia hanya akan menjadi penggembira. Kebijakan akan menguntungkan negara-negara maju, yang membutuhkan negara seperti Indonesia hanya sebagai pasar mereka. (ren)
Post a Comment