Tanzania Usir 40.000 Warga Tradisional untuk Lahan Berburu
VIVAnews - Pemerintah Tanzania memerintahkan lebih dari 40.000 anggota suku Maasai keluar dari tanah leluhur mereka, agar dapat dijadikan lahan berburu bagi anggota Kerajaan Uni Emirat Arab (UAE).
Dilansir oleh Daily Mail, Senin 17 November, wilayah seluas 1.500 kilometer persegi di sekitar Loliondo, dekat Taman Nasional Serengeti, akan diserahkan pada perusahaan UAE yang mengatur kegiatan berburu bagi keluarga kerajaan.
Aktivis mengecam pemerintah karena melanggar janji yang dibuat, untuk tidak menjual lahan suku pribumi setelah mendapat kecaman internasional, pada 2013. Kini suku Maasai diberi waktu hingga akhir 2014, untuk meninggalkan kampung mereka.
Pemerintah hanya memberikan kompensasi sebesar 1 miliar shilling, sekitar £369.350 atau tujuh miliar rupiah yang disalurkan dalam bentuk proyek pembangunan. Koordinator kelompok masyarakat Ngonett, Samwel Nangiria, mengatakan merasa dikhianati.
"Satu miliar sangat sedikit dan tidak sebanding. Itu tanah leluhur, di mana ibu dan nenek mereka dimakamkan. Tidak ada yang sebanding dengan itu," kata Samwel. Perdana Menteri Mizengo Pinda, dijadwalkan bertemu perwakilan suku Maasai, Selasa 18 November.
Maasai merupakan suku penggembala yang hidup di selatan Kenya dan utara Tanzania. Mereka hidup bersama dengan ternaknya, yang menjadi sumber utama makanan, serta standar utama kesejahteraan dan kesuksesan.
Mereka mengatakan tanah di sekitar Loliondo penting sebagai sumber makanan bagi ternak, memungkinkan mereka mempertahankan cara hidup tradisional. Penjualan lahan itu akan berdampak pada kehidupan lebih dari 80.000 jiwa.
Lahan akan dijual ke Korporasi Bisnis Ortelo (OBC), perusahaan jasa permainan berburu kalangan elit, didirikan oleh pejabat yang dekat dengan anggota keluarga kerajaan UAE. Perusahaan itu telah beroperasi di Loliondo selama 20 tahun.
Perusahaan itu melayani klien seperti Pangeran Andrew dari Kerajaan Inggris, serta anggota keluarga kerajaan-kerajaan Arab, yang dapat mendaratkan pesawat Boeing 747 mereka di bandara udara pribadi di Loliondo.
Samwel mengatakan, selama beberapa tahun terakhir polisi membunuh sejumlah aktivis yang menentang keberadaan lahan berburu. Pada September 2013, otoritas Tanzania mengakhiri lebih dari dua dekade upaya mengusir Maasai dari Loliondo.
Itu terjadi setelah 18 bulan aksi protes terkoordinasi, melalui petisi yang ditandatangani lebih dari 1,7 juta orang. Namun kini dengan mengendurnya perhatian Internasional, otoritas Tanzania meneruskan lagi usaha mengusir suku Maasai. (ren)
Dilansir oleh Daily Mail, Senin 17 November, wilayah seluas 1.500 kilometer persegi di sekitar Loliondo, dekat Taman Nasional Serengeti, akan diserahkan pada perusahaan UAE yang mengatur kegiatan berburu bagi keluarga kerajaan.
Aktivis mengecam pemerintah karena melanggar janji yang dibuat, untuk tidak menjual lahan suku pribumi setelah mendapat kecaman internasional, pada 2013. Kini suku Maasai diberi waktu hingga akhir 2014, untuk meninggalkan kampung mereka.
Pemerintah hanya memberikan kompensasi sebesar 1 miliar shilling, sekitar £369.350 atau tujuh miliar rupiah yang disalurkan dalam bentuk proyek pembangunan. Koordinator kelompok masyarakat Ngonett, Samwel Nangiria, mengatakan merasa dikhianati.
"Satu miliar sangat sedikit dan tidak sebanding. Itu tanah leluhur, di mana ibu dan nenek mereka dimakamkan. Tidak ada yang sebanding dengan itu," kata Samwel. Perdana Menteri Mizengo Pinda, dijadwalkan bertemu perwakilan suku Maasai, Selasa 18 November.
Maasai merupakan suku penggembala yang hidup di selatan Kenya dan utara Tanzania. Mereka hidup bersama dengan ternaknya, yang menjadi sumber utama makanan, serta standar utama kesejahteraan dan kesuksesan.
Mereka mengatakan tanah di sekitar Loliondo penting sebagai sumber makanan bagi ternak, memungkinkan mereka mempertahankan cara hidup tradisional. Penjualan lahan itu akan berdampak pada kehidupan lebih dari 80.000 jiwa.
Lahan akan dijual ke Korporasi Bisnis Ortelo (OBC), perusahaan jasa permainan berburu kalangan elit, didirikan oleh pejabat yang dekat dengan anggota keluarga kerajaan UAE. Perusahaan itu telah beroperasi di Loliondo selama 20 tahun.
Perusahaan itu melayani klien seperti Pangeran Andrew dari Kerajaan Inggris, serta anggota keluarga kerajaan-kerajaan Arab, yang dapat mendaratkan pesawat Boeing 747 mereka di bandara udara pribadi di Loliondo.
Samwel mengatakan, selama beberapa tahun terakhir polisi membunuh sejumlah aktivis yang menentang keberadaan lahan berburu. Pada September 2013, otoritas Tanzania mengakhiri lebih dari dua dekade upaya mengusir Maasai dari Loliondo.
Itu terjadi setelah 18 bulan aksi protes terkoordinasi, melalui petisi yang ditandatangani lebih dari 1,7 juta orang. Namun kini dengan mengendurnya perhatian Internasional, otoritas Tanzania meneruskan lagi usaha mengusir suku Maasai. (ren)
Post a Comment